Sunday, 6 November 2016

Membangun Peradapan Dari dalam Keluarga

Erna_NHW3 Matrikulasi IIP Batch 2 
Membangun peradaban di keluarga. Luar biasa rasanya mengikuti program matrikulasi iip gelombang kedua ini. Banyak hal yang mengharuskan saya untuk menjenguk ke dalam diri sendiri dan merenungkan mengapa saya ada di dunia ini, menjadi seorang individu, seorang istri, seorang ibu, dan juga seorang anggota masyarakat.
Mengikuti kegiatan ini jujur membuat saya sempat diam di tempat untuk beberapa waktu. Baper. Kebingungan sampai ingin berteriak hehehe (agak berlebihan namun begitu adanya). Saya bukan tipe ibu-ibu yang kerap heboh dan aktif sekaligus menarik perhatian di setiap kegiatan. Saya lebih senang mlipir di pinggir dan mengamati. Merasa aman rasanya saat tidak ada mata yang memandang saya (sebab saya bukan tipikal artis hihi). Namun, di program matrikulasi ini, ‘memaksa’ saya harus lebih terbuka dan menjenguk diri sendiri. Tak perlu resah dengan penilaian orang sebab kebahagiaan kita tidak berasal dari apa kata orang. Kebahagiaan kita adalah kita sendiri yang menentukan. Asal tidak menyakiti sesama, asal tidak merugikan orang lain, dan asal Tuhan tidak marah, saya boleh memilih kebahagian versi saya.
Menjawab tantangan NHW3 ini, rasanya saya semakin ‘dipaksa’ menjadi lebih terbuka.
Berawal dari pertanyaan pertama tentang mengirim surat cinta kepada suami. Membaca pertama kali untuk tugas kali ini, saya sempat terdiam. Kami menikah cukup lama dan bulan ini adalah tahun kelima. Di awal menikah sampai dua tahun pernikahan, jujur saya merasa biasa saja. Tidak ada gretet. Saya tipe mandiri yang saking mandirinya sampai terlihat tidak membutuhkan orang lain termasuk suami saya (lha?). Pernikahan kami sampai tahun ketiga adalah pernikahan jarak jauh. Saya di Surabaya dan suami di Depok. Sebulan sekali bertemu di Jogja. Kota yang secara geografis berada di tengah hehehehe. Baru di tahun keempat ketika sudah ada anak, saya pindah ke Depok.
Ketika harus menulis surat cinta ke suami, butuh perjuangan di saya. Menundukkan ego. Surat saya pun pendek dan tidak berlembar-lembar. Hanya berisi ucapan selamat pagi, memintanya menjaga kondisi, dan sebaris kalimat we love you, daddy.  Hanya itu saja. Saya selipkan ke tas diam-diam, ketika suami akan berangkat tugas keluar kota selama 4 hari.
Reaksinya ketika membaca surat itu adalah menelfon saya dan agak menangis (kebetulan tipe melankolis hehehe). Mengucapkan terima kasih dan mengatakan kalau daddy juga menyayangi saya dan si bocah. Menerima respon seperti itu, diam-diam ada perasaan terharu. Saya yang sangat tidak romantis ini, yang kerap keras kepala, ternyata memiliki suami yang sayang dan mengerti meski jarang diucapkan. Alhamdulillah ya Tuhanku.
Di saat-saat hanya berdua dengan si bocah, saya kerap merasa sangat bersyukur. Kehadirannya mengubah hidup saya. Saya yang kerap hanya memikirkan kebutuhan saya, saya yang emosional, banyak belajar dari si bocah. Anak berusia 3 tahun yang memiliki cinta tanpa syarat, menyayangi saya meski kadang tak sengaja saya menyakitinya. Kemampuannya menyayangi, kemampuannya menerima saya apa adanya, kemampuannya yang selalu ingin tahu dan menenangkan saya bila gundah sungguh anugerah terindah. Kehadiran si bocah membuat saya selalu berusaha menjadi ibu yang terbaik untuknya. Usia pertumbuhannya yang sedang tahap mengenal banyak hal, menunjukkan ke saya bahwa tidak ada yang sempurna namun kita harus berusaha sebaik-baiknya dalam setiap tindakan. Selalu ada kesalahan dalam perjalanan hidup ini dan itu manusiawi. Si bocah banyak menunjukkan hal menakjubkan tentang kehidupan.
Saya adalah tipe ibu yang mandiri dan sangat menuntut kesempurnaan dulu. Perfecsionist. Memiliki pasangan yang punya kasih sayang dan pengertian tinggi namun sangat mudah lupa akan sesuatu yang remeh-remeh, membuat saya belajar menerima kekurangan dan menjadi pelengkap kekurangan pasangan (saya tipe orang yang detail). Kehadiran si bocah pun mengubah saya menjadi pribadi yang berbeda. Kegemaran akan menimba ilmu dan bergaul dengan anak-anak ternyata sangat membantu dalam pengasuhan si bocah.

Kebetulan di Depok ini saya tinggal di komplek yang penghuninya banyak para pensiunan. Komplek yang damai meskipun matahari sudah tinggi. Tak ada lalu lalang orang bergegas. Padahal jalan kartini yang hiruk pikuk hanya 5 menit berjalan kaki dari komplek. Kehadiran kami dengan si bocah membawa warna tersendiri dengan kehebohannya. Nenek kakek di sekitar rumah, mudah tersenyum dengan hanya melihat kelebat si bocah lewat. Saya dan si bocah membiasakan diri berjalan kaki mengelilingi komplek setiap pagi. Menyapa dengan senyuman kakek nenek yang kebetulan sedang di luar membaca koran atau berjemur. Hampir semuanya senang dan membalas senyuman kami. Tuhan menunjukkan kepada kami akan bahwa bahagia itu bisa sesederhana senyuman. Kasih sayang itu bisa berwujud sapaan ramah seorang anak kecil kepada seorang lanjut usia. Bahagia itu juga bisa ditularkan.