Erna_NHW3
Matrikulasi IIP Batch 2
Membangun peradaban di
keluarga. Luar biasa rasanya mengikuti program matrikulasi iip gelombang kedua
ini. Banyak hal yang mengharuskan saya untuk menjenguk ke dalam diri sendiri
dan merenungkan mengapa saya ada di dunia ini, menjadi seorang individu,
seorang istri, seorang ibu, dan juga seorang anggota masyarakat.
Mengikuti kegiatan ini jujur
membuat saya sempat diam di tempat untuk beberapa waktu. Baper. Kebingungan sampai
ingin berteriak hehehe (agak berlebihan namun begitu adanya). Saya bukan tipe
ibu-ibu yang kerap heboh dan aktif sekaligus menarik perhatian di setiap
kegiatan. Saya lebih senang mlipir di pinggir dan mengamati. Merasa aman
rasanya saat tidak ada mata yang memandang saya (sebab saya bukan tipikal artis
hihi). Namun, di program matrikulasi ini, ‘memaksa’ saya harus lebih terbuka
dan menjenguk diri sendiri. Tak perlu resah dengan penilaian orang sebab
kebahagiaan kita tidak berasal dari apa kata orang. Kebahagiaan kita adalah
kita sendiri yang menentukan. Asal tidak menyakiti sesama, asal tidak merugikan
orang lain, dan asal Tuhan tidak marah, saya boleh memilih kebahagian versi
saya.
Menjawab tantangan NHW3 ini,
rasanya saya semakin ‘dipaksa’ menjadi lebih terbuka.
Berawal dari pertanyaan
pertama tentang mengirim surat cinta kepada suami. Membaca pertama kali untuk
tugas kali ini, saya sempat terdiam. Kami menikah cukup lama dan bulan ini
adalah tahun kelima. Di awal menikah sampai dua tahun pernikahan, jujur saya
merasa biasa saja. Tidak ada gretet. Saya tipe mandiri yang saking mandirinya
sampai terlihat tidak membutuhkan orang lain termasuk suami saya (lha?).
Pernikahan kami sampai tahun ketiga adalah pernikahan jarak jauh. Saya di
Surabaya dan suami di Depok. Sebulan sekali bertemu di Jogja. Kota yang secara
geografis berada di tengah hehehehe. Baru di tahun keempat ketika sudah ada
anak, saya pindah ke Depok.
Ketika harus menulis surat
cinta ke suami, butuh perjuangan di saya. Menundukkan ego. Surat saya pun
pendek dan tidak berlembar-lembar. Hanya berisi ucapan selamat pagi, memintanya
menjaga kondisi, dan sebaris kalimat we
love you, daddy. Hanya itu saja. Saya
selipkan ke tas diam-diam, ketika suami akan berangkat tugas keluar kota selama
4 hari.
Reaksinya ketika membaca
surat itu adalah menelfon saya dan agak menangis (kebetulan tipe melankolis
hehehe). Mengucapkan terima kasih dan mengatakan kalau daddy juga menyayangi saya dan si bocah. Menerima respon seperti
itu, diam-diam ada perasaan terharu. Saya yang sangat tidak romantis ini, yang
kerap keras kepala, ternyata memiliki suami yang sayang dan mengerti meski
jarang diucapkan. Alhamdulillah ya Tuhanku.
Di saat-saat hanya berdua
dengan si bocah, saya kerap merasa sangat bersyukur. Kehadirannya mengubah
hidup saya. Saya yang kerap hanya memikirkan kebutuhan saya, saya yang
emosional, banyak belajar dari si bocah. Anak berusia 3 tahun yang memiliki
cinta tanpa syarat, menyayangi saya meski kadang tak sengaja saya menyakitinya.
Kemampuannya menyayangi, kemampuannya menerima saya apa adanya, kemampuannya
yang selalu ingin tahu dan menenangkan saya bila gundah sungguh anugerah
terindah. Kehadiran si bocah membuat saya selalu berusaha menjadi ibu yang
terbaik untuknya. Usia pertumbuhannya yang sedang tahap mengenal banyak hal,
menunjukkan ke saya bahwa tidak ada yang sempurna namun kita harus berusaha
sebaik-baiknya dalam setiap tindakan. Selalu ada kesalahan dalam perjalanan
hidup ini dan itu manusiawi. Si bocah banyak menunjukkan hal menakjubkan
tentang kehidupan.
Saya adalah tipe ibu yang
mandiri dan sangat menuntut kesempurnaan dulu. Perfecsionist. Memiliki pasangan
yang punya kasih sayang dan pengertian tinggi namun sangat mudah lupa akan
sesuatu yang remeh-remeh, membuat saya belajar menerima kekurangan dan menjadi
pelengkap kekurangan pasangan (saya tipe orang yang detail). Kehadiran si bocah
pun mengubah saya menjadi pribadi yang berbeda. Kegemaran akan menimba ilmu dan
bergaul dengan anak-anak ternyata sangat membantu dalam pengasuhan si bocah.
Kebetulan di Depok ini saya
tinggal di komplek yang penghuninya banyak para pensiunan. Komplek yang damai
meskipun matahari sudah tinggi. Tak ada lalu lalang orang bergegas. Padahal jalan
kartini yang hiruk pikuk hanya 5 menit berjalan kaki dari komplek. Kehadiran kami
dengan si bocah membawa warna tersendiri dengan kehebohannya. Nenek kakek di
sekitar rumah, mudah tersenyum dengan hanya melihat kelebat si bocah lewat. Saya
dan si bocah membiasakan diri berjalan kaki mengelilingi komplek setiap pagi. Menyapa
dengan senyuman kakek nenek yang kebetulan sedang di luar membaca koran atau
berjemur. Hampir semuanya senang dan membalas senyuman kami. Tuhan menunjukkan
kepada kami akan bahwa bahagia itu bisa sesederhana senyuman. Kasih sayang itu
bisa berwujud sapaan ramah seorang anak kecil kepada seorang lanjut usia. Bahagia
itu juga bisa ditularkan.

